Sabtu, 05 Maret 2016

Abu Lahab, Nasabnya Mulia, Parasnya menawan,Harta Melimpah, Tapi Ketika Tidak Ikut Ajaran Nabi, Maka Jadi Orang Yang Rugi

Paman Nabi yang hidu di masa kerasulan ada empat orang. Dua orang beriman kepada risalah Islam dan dua lainnya kufur bahkan menentang. Dua orang yang beriman adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan al-Abbas bin Abdul Muthalib radhiallahu ‘anhuma.
Satu orang menolong dan menjaganya, tidak menentang dakwahnya, namun ia tidak menerima agama Islam yang beliau bawa. Di adalah Abu Thalib bin Abdul Muthalib. Dan yang keempat adalah Abdul Uzza bin Abdul Muthalib. Ia menentang dan memusuhui keponakannya. Bahkan menjadi tokoh orang-orang musyrik yang memerangi beliau .
Nama terakhir ini kita kenal dengan Abu Lahab. Dan Alquran mengabadikannya dengan nama itu.
Sifat Fisiknya
Lewat film dan gambar-gambar, Abu Lahab dikenalkan dengan perawakan jelek (tidak tampan) dan hitam. Sehingga kesan garang seorang penjahat begitu cocok dengan penampilannya. Namun, sejarawan meriwayatkan bahwa Abu Lahab adalah sosok yang sangat putih kulitnya. Seorang laki-laki tampan dan sangat cerah wajahnya. Demikianlah orang-orang jahiliyah mengenalnya.
Pelajaran bagi kita, Abu Lahab memiliki nasab yang mulia. Seorang Quraisy. Paman dari manusia terbaik dan rasul yang paling utama, Muhammad . Memiliki kedudukan di tengah kaumnya. Memiliki paras yang rupawan. Namun semuanya tidak ada artinya tanpa keimanan. Allah  hinakan dia dengan mencatatnya sebagai seorang yang celaka. Dan dibaca oleh manusia hingga hari kiamat dalam surat al-Masad.
Sementara Bilal bin Rabah. Seorang budak, hitam, tidak pula tampan, dan jauh dari kedudukan serta kemapanan. Namun Allah muliakan dengan keimanan. Oleh karena itu, janganlah tertipu dengan keadaan.
Rasulullah  bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).
Mengapa Ia Disebut Abu Lahab?
Kun-yah dari Abdul Uzza bin Abdul Muthalib adalah Abu Lahab. Lahab artinya api. Karena Abdul Uzza ketika marah, rona wajahnya berubah menjadi merah layaknya api. Dengan kun-yahnya inilah Alquran menyebutnya, bukan dengan nama aslinya. Alasannya:

Rabu, 27 Januari 2016

Lihat yang dilakukan Anak ini membuat Syeikh terkejut


Mata adalah jendela dunia. Tanpanya, hidup terasa tak sempurna. Sedih dan mengeluh itu pasti terjadi pada sebagian manusia yang kehilangan penglihatannya. Tapi tidak dengan anak kecil tunanetra dari Mesir ini. Ia adalah salah satu hamba Allah yang ikhlash atas ketetapanNya.

Penyiar TV Arab Saudi Al-Wathan mewancarai anak istimewa ini. Seorang anak laki-laki tunanetra penghafal Al-Quran dari Mesir yang berusia 11 tahun.

Kamis, 21 Januari 2016

Pemikiran KHAWARIJ atau TAKFIRI Akan Membawa Kepada Penumpahan Darah Kaum Muslimin


Suara hatiku buat saudara - saudaraku Aswaja

Bismillah

Aku pernah bersama para Kiyayimu,
Aku terlahir dari kalangan Nu
Aku besar juga dikalangan Nu.
Namun aku pernah tersesat jauh kelembah takfiri jihadis.
Ketika aku dalam selimut gelapnya takfiri.....
NU adalah musuhku
Muhamadiyah adalah musuhku...
Salafi adalah musuh besarku......
NKRI adalah musuhku.....
Alhamdulillah....embun hidayah...telah memadamkan api takfiri di dadaku....
Cahaya sunnah....telah menerangi gelapnya syubhat jihadis di rongga di hatiku.
Jalan yang terbentang di hadapanku kini ..... adalah jalannya ulama kita yang terdahulu.

Orang terdahulu dalam Islam,....

Senin, 18 Januari 2016

Dzikir sebelum tidur

Menyegerakan bertaubat

Adab adab penuntut Ilmu

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah,amma ba’du. Para pembaca yang budiman, menuntut ilmu agama adalah sebuah tugas yang sangat mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka Allah akan pahamkan dia dalam hal agamanya.” (HR. Bukhari) Oleh sebab itu sudah semestinya kita berupaya sebaik-baiknya dalam menimba ilmu yang mulia ini. Nah, untuk bisa meraih apa yang kita idam-idamkan ini tentunya ada adab-adab yang harus diperhatikan agar ilmu yang kita peroleh membuahkan barakah, menebarkan rahmah dan bukannya malah menebarkan fitnah atau justru menyulut api hizbiyah. Wallaahul musta’aan.
ADAB PERTAMA
Mengikhlaskan Niat untuk Allah ‘azza wa jalla
Yaitu dengan menujukan aktivitas menuntut ilmu yang dilakukannya untuk mengharapkan wajah Allah dan negeri akhirat, sebab Allah telah mendorong dan memotivasi untuk itu. Allahta’ala berfirman yang artinya, “Maka ketahuilah, sesungguhnya tidak ada sesembahan yang hak selain Allah dan minta ampunlah atas dosa-dosamu.” (QS. Muhammad: 19). Pujian terhadap para ulama di dalam al-Qur’an juga sudah sangat ma’ruf. Apabila Allah memuji atau memerintahkan sesuatu maka sesuatu itu bernilai ibadah.